Harga Memori Melonjak 2026: Ledakan DRAM dan NAND Ubah Peta Industri Penyimpanan

Kenaikan harga chip DRAM dan NAND sepanjang 2026 menekan pasar ponsel murah dan memaksa enterprise meninjau ulang strategi penyimpanan data. Ini analisis tren, penyebab, dan langkah mitigasi.

Share
Harga Memori Melonjak 2026: Ledakan DRAM dan NAND Ubah Peta Industri Penyimpanan

Pasar memori global sedang mengalami guncangan harga terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Sepanjang 2026, harga chip DRAM dan NAND flash meroket dan mulai mengubah cara vendor ponsel menyusun portofolio hingga cara perusahaan enterprise merencanakan anggaran penyimpanan data. Laporan Omdia yang dirangkum KompasTekno pada Juli 2026 menunjukkan bahwa biaya memori kini mendominasi struktur harga perangkat, terutama di segmen entry-level.

Bagi praktisi infrastruktur TI, tren ini bukan sekadar berita konsumsi. Lonjakan harga memori beririsan langsung dengan keputusan pembelian SSD enterprise, ekspansi kapasitas storage node, hingga perhitungan total cost of ownership (TCO) pusat data. Artikel ini membedah penyebab, dampak, dan langkah mitigasi yang rasional.

Mengapa Harga DRAM dan NAND Tiba-tiba Meroket?

Kenaikan harga bukan fenomena tiba-tiba, melainkan akumulasi dari sisi suplai dan sisi permintaan yang bergerak berlawanan arah. Di sisi suplai, tiga produsen memori terbesar dunia mengerem ekspansi kapasitas wafer sejak akhir 2024 untuk menstabilkan harga setelah periode oversupply. Di sisi permintaan, ledakan adopsi AI server menyerap sebagian besar produksi HBM (High Bandwidth Memory) dan DRAM berkinerja tinggi, menyisakan ruang lebih sempit untuk memori konvensional.

Hasilnya terlihat di angka. Pada kuartal III-2025, biaya memori menyumbang hanya 31–32 persen dari total biaya produksi (BOM) ponsel dengan harga di bawah 400 dollar AS. Pada kuartal I-2026, porsi itu melompat ke 59 persen. Untuk perangkat di bawah 99 dollar AS, kontribusi memori bahkan mencapai 64 persen. Di segmen premium (di atas 800 dollar AS), kenaikan lebih moderat namun tetap signifikan: dari 11 persen menjadi 26 persen.

Pada perangkat di bawah 99 dollar AS, biaya memori menyumbang 64 persen dari total BOM pada kuartal I-2026 — angka yang praktis menutup ruang keuntungan bagi vendor entry-level.

Dampak ke Pasar Ponsel dan Enterprise Storage

Omdia memproyeksikan pengiriman smartphone dengan harga di bawah 400 dollar AS (sekitar Rp 7,1 juta) akan turun lebih dari 22 persen secara global pada 2026. Secara keseluruhan, pasar smartphone global diprediksi menyusut sekitar 12 persen, dengan segmen perangkat di atas 400 dollar AS justru masih tumbuh 5,7 persen. Vendor seperti Transsion, Oppo, Vivo, Honor, dan Xiaomi mulai menaikkan harga jual demi menjaga margin.

Bagi enterprise, dinamika serupa berlaku pada sisi storage. SSD berbasis NAND kini mencatat kenaikan harga per gigabyte, sehingga perencana kapasitas harus menimbang ulang rasio antara tiering flash dan media rotasional. Berikut ilustrasi perhitungan sederhana biaya per GB yang sering digunakan saat menyusun proposal anggaran storage:

# Estimasi biaya storage per GB (skenario 2026, angka ilustratif)
flash_price_per_gb = 0.11   # USD, naik dari 0.07 di 2024
hdd_price_per_gb   = 0.018  # USD, relatif stabil
capacity_tb        = 100

flash_cost = flash_price_per_gb * capacity_tb * 1024
hdd_cost   = hdd_price_per_gb   * capacity_tb * 1024

print(f"Flash 100TB: ${flash_cost:,.0f}")
print(f"HDD  100TB: ${hdd_cost:,.0f}")
print(f"Selisih:   ${flash_cost - hdd_cost:,.0f}")

Dengan selisih yang membesar, strategi hybrid storage — menempatkan data panas di flash dan data dingin di HDD — kembali relevan setelah beberapa tahun terdesak oleh turunnya harga SSD.

Strategi Mitigasi untuk Tim Infrastruktur

Tim TI tidak perlu pasif menanggung kenaikan harga. Beberapa langkah konkret yang bisa diambil:

  • Long-term supply agreement: Kunci harga memori dan SSD melalui kontrak volume dengan vendor untuk beberapa kuartal ke depan guna menghindari fluktuasi puncak.
  • Storage tiering ketat: Audit data secara berkala dan pindahkan data jarang diakses ke object storage atau HDD arkival.
  • Deduplikasi dan kompresi: Teknik ini menurunkan footprint fisik penyimpanan sehingga kebutuhan kapasitas flash aktual menyusut.
  • Evaluasi QLC vs TLC: Untuk beban kerja pembacaan intensif, NAND QLC dengan harga lebih rendah bisa menjadi kompromi yang masuk akal asalkan penulisan acak dibatasi.

Di sisi perangkat konsumen, konsumen disarankan menunda penggantian ponsel murah jika memungkinkan, atau beralih ke segmen menengah yang masih menawarkan ruang negosiasi harga komponen.

Outlook: Kapan Harga Memori Kembali Normal?

Analis Omdia, Zaker Li, menyatakan tekanan terhadap segmen entry-level diproyeksikan berlanjut dalam beberapa kuartal mendatang karena harga memori belum menunjukkan tanda penurunan. Vendor secara bertahap mundur dari segmen bawah dan bergeser ke perangkat menengah serta premium yang lebih tahan terhadap kenaikan harga.

Untuk enterprise Indonesia, momentum ini sebaiknya dijadikan kesempatan menata ulang arsitektur penyimpanan: memperkuat tiering, mengotomatisasi lifecycle data, dan membangun kontrak pasokan yang tangguh. Kenaikan harga memori 2026 pada akhirnya bukan sekadar gangguan rantai pasok, melainkan sinyal untuk mendesain infrastruktur storage yang lebih efisien dan tahan guncangan.