Indonesia Dorong Alokasi Spektrum Upper 6 GHz: Fondasi 5G-Advanced dan 6G di Era Digital 2026
MASTEL gelar seminar nasional 9 Juli 2026 mendorong alokasi spektrum Upper 6 GHz (6425–7125 MHz) sebagai fondasi strategis 5G-Advanced dan 6G. Indonesia berusaha tak tertinggal seperti era 5G, dengan 700 MHz bandwidth berpotensi jadi game-changer konektivitas nasional.
Indonesia sedang berlari dalam persaingan teknologi global. Setelah mengalami keterlambatan adopsi 5G akibat ketersediaan spektrum terbatas dan biaya spektrum yang tinggi, kini pemerintah dan industri bergerak proaktif menyiapkan fondasi untuk era 5G-Advanced dan 6G. Kunci utamanya: alokasi spektrum Upper 6 GHz (6425–7125 MHz) yang menawarkan lebar pita 700 MHz kontinu — sumber daya langka dan strategis untuk mobile broadband generasi depan.
Seminar Nasional MASTEL: Momentum Kebijakan Spektrum 9 Juli 2026
Pada Kamis, 9 Juli 2026, Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL) menggelar Seminar dan Workshop Nasional bertajuk "Nilai Strategis Nasional TIK dari Alokasi Spektrum Upper 6 GHz untuk Mobile Broadband 5G-Advanced dan 6G di Indonesia" di Jakarta. Acara ini mempertemukan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Bappenas, regulator SDPPI, operator seluler (Telkomsel, XLSmart, Indosat), serta vendor global seperti Huawei dan Ericsson.
Ketua Umum MASTEL, Sarwoto Atmosutarno, tegas menyatakan: "Indonesia tidak boleh lagi terlambat adopsi 6G seperti halnya 5G. Kita harus menyiapkan fondasi spektrum sejak sekarang agar saat ekosistem global siap, Indonesia siap menggelar layanan."
Pernyataan ini mengingat penetrasi 5G di Indonesia baru mencapai sekitar 1–2% per Juni 2026, jauh di bawah rata-rata ASEAN.
"Kalau jalan rayanya sudah ada, nanti tergantung mau dipakai teknologi apa di atasnya. Bisa 5G, bisa nanti langsung berkembang ke 6G." — Sarwoto Atmosutarno, Ketua Umum MASTEL
Mengapa Upper 6 GHz Begitu "Seksi" untuk 5G-Advanced dan 6G?
Spektrum Upper 6 GHz (6425–7125 MHz) menawarkan 700 MHz lebar pita kontinu (contiguous). Untuk 5G-Advanced (5G-A) dan 6G, satu operator idealnya membutuhkan 200–400 MHz bandwidth kontinu untuk mencapai performa optimal — latensi ultra-rendah, throughput multi-Gbps, dan efisiensi spektrum tinggi. Band frekuensi ini merupakan upper mid-band yang menggabungkan keunggulan jangkauan (seperti low-band) dan kapasitas tinggi (seperti mmWave).
Pada WRC-23 (World Radiocommunication Conference 2023), pita 6 GHz atas telah diidentifikasi untuk IMT (International Mobile Telecommunications) di Region 1 (termasuk Indonesia), Mexico, Brasil (Region 2), serta Kamboja, Laos, Maldives (Region 3). Lebih dari 30 negara sudah mengalokasikan pita ini untuk mobile broadband, termasuk China, Korea Selatan, Jepang, dan negara-negara Uni Eropa.
Tantangan: Koeksistensi dengan Wi-Fi 6E/7 dan Fixed Satellite Service
Pemanfaatan Upper 6 GHz tidak tanpa hambatan. Pita ini saat ini digunakan oleh:
- Wi-Fi 6E / Wi-Fi 7 (unlicensed, indoor low-power)
- Fixed Satellite Service (FSS) — earth station receive (downlink)
- Fixed Service (FS) — microwave backhaul
- Radio Astronomy — observasi ilmiah
Studi koeksistensi oleh 3GPP, ITU-R, dan regulator global menunjukkan Automated Frequency Coordination (AFC) dan pembatasan daya pancar (EIRP) memungkinkan sharing dengan pelaku incumbent. Negara seperti Korea Selatan dan Arab Saudi telah menetapkan skema berbagi (shared licensing) untuk mobile broadband di pita ini.
Contoh Parameter Koeksistensi (Referensi ITU-R M.2101 / 3GPP TR 38.817):
┌─────────────────────┬────────────────────────────────────────┐
│ Parameter │ Nilai Rekomendasi │
├─────────────────────┼────────────────────────────────────────┤
│ Base Station Max EIRP│ 32 dBm/MHz (macro), 24 dBm/MHz (small)│
│ UE Max EIRP │ 23 dBm │
│ AFC Required │ Ya (untuk outdoor > 6 GHz) │
│ Indoor Low Power │ Tidak perlu AFC (seperti Wi-Fi 6E) │
│ Guard Band ke FSS │ Min. 20–50 MHz tergantung geometri │
└─────────────────────┴────────────────────────────────────────┘
Bappenas melalui Deputi Bidang Sarana dan Prasarana, Febrian Alphandry, menegaskan bahwa pembukaan Upper 6 GHz harus didasarkan pada evidence-based policy — mempertimbangkan nilai ekonomi digital, efisiensi spektrum, dan keadilan akses bagi seluruh lapisan masyarakat.
Pelajaran dari Keterlambatan 5G: Jangan Ulangi Kesalahan yang Sama
Indonesia melewatkan momentum awal 5G. Lelang spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz baru diselesaikan Juli 2026 — XLSmart menang 700 MHz, Telkomsel kuasai 2,6 GHz. Total bandwidth 712 MHz tersebar ke tiga operator. Sementara itu, negara tetangga seperti Thailand, Malaysia, dan Vietnam sudah meluncurkan 5G komersial sejak 2020.
Keterlambatan ini berakibat:
- Investasi tertunda — Operator ragu memperluas jaringan tanpa kepastian spektrum jangka panjang.
- Ekosistem perangkat lambat berkembang — Smartphone 5G terjangkau baru merajalela 2023–2024.
- Kasus penggunaan industri (IIoT, smart manufacturing) ketinggalan — Sektor manufaktur Indonesia belum memanfaatkan 5G sepenuhnya untuk Making Indonesia 4.0.
Sarwoto menambahkan: "Kalau kita tidak well-planned, tahu-tahu lingkungan internasional sudah siap, sementara kita belum."
MASTEL menargetkan rekomendasi kebijakan alokasi Upper 6 GHz selesai 2026 agar bisa masuk rencana strategis Kominfo 2027–2029.
Roadmap Menuju 6G: Dari Spektrum ke Ekosistem
Alokasi spektrum hanyalah fondasi. Indonesia butuh pendekatan holistik:
- Infrastruktur Fiber Backhaul: 6G membutuhkan backhaul terabit-per-second. Perlu percepatan pembangunan backbone fiber (Proyek Palapa Ring, kabel laut Bifrost, Nongsa-Changi).
- Riset & Standarisasi: BRIN, ITB, UI, dan industri dorong partisipasi aktif di 3GPP Release 19/20 (5G-Advanced) dan Release 21+ (6G).
- Pengembangan Talenta: Kebutuhan insinyur RF, AI/ML untuk jaringan otonom, dan keamanan siber 6G.
- Regulasi Spektrum Fleksibel: Dynamic Spectrum Sharing (DSS), Licensed Shared Access (LSA), dan spectrum marketplace.
Komdigi saat ini menyusun Roadmap Spektrum Nasional 2025–2030 yang akan mencakup alokasi Upper 6 GHz, 26 GHz (mmWave 5G), dan persiapan pita sub-THz (100–300 GHz) untuk 6G.
Kesimpulan: Waktu Adalah Faktor Kritis
Indonesia berada di persimpangan jalan. Keputusan alokasi Upper 6 GHz dalam 12–18 bulan ke depan akan menentukan apakah negara ini bisa melompat generasi (leapfrog) ke 5G-Advanced dan 6B, atau terjebak dalam siklus "mengejar tertinggal" yang berulang. Kolaborasi MASTEL, Kominfo, Bappenas, operator, dan akademisi pada 9 Juli 2026 adalah sinyal positif — namun eksekusi kebijakan yang cepat dan konsisten adalah satu-satunya jaminan.
Seperti pepatah di industri telekom: "Spectrum is the oxygen of wireless." Tanpa oksigen yang cukup, jaringan generasi depan tidak akan pernah bernapas. Indonesia harus memastikan pasokan oksigen ini tersedia — hari ini, bukan besok.